Merawat Keberagaman di Era Global: Jaringan Intelektual Keagamaan dan Multikulturalisme

BUKU
BARU
Merawat Keberagaman di Era Global: Jaringan Intelektual Keagamaan dan Multikulturalisme
Detail Buku

Merawat Keberagaman di Era Global: Jaringan Intelektual Keagamaan dan Multikulturalisme

Prof. Dr. M. Yusuf Wibisono, M.Ag., Dr. H. Bukhori, SS., M.Ag. & Ach Hakiki, S.Ag.

Rp83.000

Ketersediaan: Tersedia

Merawat Keberagaman di Era Global: Jaringan Intelektual Keagamaan dan Multikulturalisme

Penulis Prof. Dr. M. Yusuf Wibisono, M.Ag., Dr. H. Bukhori, SS., M.Ag. & Ach Hakiki, S.Ag.
Penerbit CV. Media Publikasi Profesional
Tahun terbit 2026
ISBN 978-634-05-7463-0
DOI http://doi.org/10.57032/978-634-05-7463-0
Harga Rp83.000
Status Tersedia

Deskripsi Buku

Buku Merawat Keberagaman di Era Global hadir untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan melihat keberagaman bukan sekadar sebagai kenyataan sosial, tetapi sebagai ruang kehidupan yang perlu dipahami, dikelola, dan dirawat secara terus-menerus. Globalisasi dan perkembangan teknologi komunikasi telah membuat gagasan, nilai, identitas, dan pengetahuan keagamaan bergerak melampaui batas geografis. Media digital memungkinkan masyarakat memperoleh pengetahuan agama dari berbagai sumber dalam waktu yang sangat cepat. Namun, keterhubungan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan berupa fragmentasi otoritas, polarisasi identitas, segregasi informasi, dan semakin kompleksnya relasi sosial di ruang publik. Dalam konteks tersebut, buku ini memberikan perhatian khusus pada jaringan intelektual keagamaan. Pengetahuan keagamaan tidak lagi bergerak melalui satu jalur, tetapi dibentuk oleh perjumpaan antara perguruan tinggi, pesantren, organisasi keagamaan, komunitas, tokoh agama, akademisi, generasi muda, dan media digital. Jaringan tersebut dapat menjadi ruang pertukaran gagasan, dialog, dan kolaborasi sosial ketika dibangun secara terbuka dan berkelanjutan. Buku ini juga mengajak pembaca melihat bahwa toleransi tidak cukup berhenti pada slogan atau kegiatan seremonial. Kehidupan bersama membutuhkan pengalaman sosial yang nyata melalui dialog, perjumpaan, kerja sama, literasi, dan keterlibatan masyarakat. Setiap kelompok tetap dapat mempertahankan identitasnya tanpa harus meniadakan keberadaan kelompok lain. Bandung menjadi salah satu konteks penting dalam pembahasan buku ini. Sebagai ruang urban yang mempertemukan pendidikan, agama, budaya lokal, globalisasi, teknologi digital, komunitas, dan berbagai kelompok sosial, Bandung memberikan gambaran mengenai bagaimana keberagaman diproduksi, diperdebatkan, dinegosiasikan, dan dijalani dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pengalaman tersebut tidak ditempatkan sebagai gambaran tunggal bagi seluruh Indonesia, melainkan sebagai salah satu jendela untuk memahami dinamika keberagaman yang lebih luas. Menariknya, buku ini tidak menempatkan multikulturalisme sebagai keadaan ideal tanpa konflik. Perbedaan kepentingan, ketegangan, perdebatan, dan negosiasi merupakan bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, ukuran keberhasilan kehidupan bersama bukanlah hilangnya perbedaan, melainkan kemampuan masyarakat untuk mempertahankan komunikasi, penghormatan, dan kerja sama ketika perbedaan tetap ada. ISBNMERAWAT KEBERAGAMAN DI ERA … Pembahasan kemudian diarahkan pada gagasan ekosistem keberagaman, yaitu kehidupan sosial yang ditopang oleh pendidikan, agama, komunitas, media, budaya lokal, literasi, jaringan sosial, dan keterlibatan warga. Buku ini merumuskan empat pilar penting: kolaborasi institusi, komunikasi digital yang kontekstual, literasi multikultural, dan civic engagement. Keempatnya tidak diposisikan sebagai formula tunggal, tetapi sebagai kerangka yang perlu diterjemahkan sesuai dengan sejarah, budaya, aktor, dan persoalan masing-masing masyarakat..

Preview Buku

Posting Komentar

0 Komentar