Membaca Alam, Membaca Tuhan: Ekoteologi dan Transmisi Pengetahuan Islam dalam Pemikiran Said Nursi dan Haji Hasan Mustapa

BUKU
BARU
Membaca Alam, Membaca Tuhan: Ekoteologi dan Transmisi Pengetahuan Islam dalam Pemikiran Said Nursi dan Haji Hasan Mustapa
Detail Buku

Membaca Alam, Membaca Tuhan: Ekoteologi dan Transmisi Pengetahuan Islam dalam Pemikiran Said Nursi dan Haji Hasan Mustapa

Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M.Ag. & Dr. H. Mulyana, Lc., M.Ag.

Rp83.000

Ketersediaan: Tersedia

Membaca Alam, Membaca Tuhan: Ekoteologi dan Transmisi Pengetahuan Islam dalam Pemikiran Said Nursi dan Haji Hasan Mustapa

Penulis Drs. Ahmad Gibson Albustomi, M.Ag. & Dr. H. Mulyana, Lc., M. Ag.
Penerbit CV. Media Publikasi Profesional
Tahun terbit 2026
ISBN 978-634-05-7449-4
DOI http://doi.org/10.57032/978-634-05-7449-4
Harga Rp83.000
Status Tersedia

Deskripsi Buku

Bagaimana manusia seharusnya membaca alam? Apakah alam hanya sesuatu yang dapat dilihat, dimanfaatkan, dan dikelola, ataukah ia juga menyimpan tanda, pengalaman, dan makna yang mengajak manusia memahami kembali hubungan dirinya dengan Tuhan? Buku Membaca Alam, Membaca Tuhan hadir dari kegelisahan intelektual terhadap semakin kompleksnya hubungan manusia dengan alam di tengah perkembangan modernitas. Krisis ekologis tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga menyentuh persoalan yang lebih mendasar: bagaimana manusia memahami dirinya, menempatkan alam, menggunakan pengetahuan, dan menjalankan tanggung jawab moralnya terhadap dunia yang ditempatinya. Buku ini mempertemukan dua khazanah pemikiran Islam yang berasal dari konteks sejarah dan kebudayaan berbeda, yaitu Said Nursi dan Haji Hasan Mustapa. Nursi menghadirkan cara membaca semesta melalui keteraturan, hubungan, dan tanda-tanda penciptaan yang mengarahkan manusia kepada kesadaran ketuhanan. Sementara itu, Haji Hasan Mustapa memperlihatkan bagaimana rasa, simbol, sastra, bahasa, dan kebudayaan dapat menjadi jalan bagi pengalaman spiritual dan pembentukan pengetahuan keagamaan. Yang menarik, buku ini tidak memaksakan istilah ekoteologi kepada kedua tokoh tersebut. Baik Nursi maupun Mustapa tidak merumuskan teori ekologi modern sebagaimana dipahami saat ini. Ekoteologi digunakan sebagai lensa kontemporer untuk membaca kembali kemungkinan etis dan spiritual yang terkandung dalam warisan pemikiran mereka. Dengan demikian, buku ini membuka ruang dialog antara warisan intelektual Islam dan persoalan ekologis masa kini, bukan menjadikan pemikiran masa lalu sebagai teori lingkungan yang siap pakai. Selain persoalan alam, buku ini memberikan perhatian khusus pada transmisi pengetahuan Islam. Pengetahuan tidak pernah bergerak dengan sendirinya. Ia membutuhkan bahasa, teks, sastra, otoritas, medium, audiens, komunitas, dan konteks sosial. Karena itu, cara sebuah gagasan disampaikan turut menentukan bagaimana gagasan tersebut dipahami, diwariskan, ditafsirkan, dan tetap hidup ketika masyarakat mengalami perubahan. Melalui pembacaan terhadap Nursi dan Mustapa, buku ini menunjukkan bahwa pengetahuan keagamaan dapat bergerak melalui jalan yang berbeda. Nursi membuka jalan dari pengamatan terhadap keteraturan menuju refleksi keimanan, sementara Mustapa membuka jalan dari rasa, simbol, bahasa, dan budaya menuju penghayatan spiritual. Perbedaan tersebut bukan untuk mempertentangkan keduanya, melainkan untuk memperluas cara memahami hubungan manusia dengan alam. Pada akhirnya, buku ini mengajak pembaca memahami bahwa persoalan ekologis tidak cukup dijawab hanya dengan teknologi, data, atau kebijakan. Krisis lingkungan juga membutuhkan bahasa etika, agama, filsafat, kebudayaan, dan spiritualitas untuk menjawab pertanyaan tentang batas kebutuhan manusia, nilai alam, tanggung jawab terhadap makhluk lain, dan makna kehidupan.

Preview Buku

Posting Komentar

0 Komentar